![]() |
Foto : Kurir JNE korban pemalakan di Medan Baru, Jumat (4/4/2025). |
.
Medan, Aktual24.net | Seorang kurir JNE bernama Kheldy Despriyandani (35) menjadi korban penganiayaan saat mengantar paket ke Jalan Jamin Ginting, Gang Karya Lingkungan I, Kelurahan Darat, Kecamatan Medan Baru, pada Jumat (4/4/2025) sekitar pukul 22.00 WIB. Insiden ini bermula dari aksi pemalakan berkedok permintaan uang parkir dan SPSI.
Awalnya, Kheldy bersama rekannya, Andy Kusuma, hendak meninggalkan lokasi usai mengantar barang. Namun, tiba-tiba mereka dihampiri oleh seorang pria yang meminta uang parkir dan iuran SPSI.
"Kami sudah bayar parkir barkot, Bang, dan untuk SPSI juga sudah kami bayar ke Bang Gondrong," ujar Kheldy kepada pria tersebut.
Sayangnya, pernyataan itu justru memicu kemarahan. Pria itu membentak Kheldy sambil mengeluarkan kata-kata kasar, "Kntlah sama kau! Kalau nggak mau bayar, jangan berhenti di sini kalian!" semburnya sambil memanggil teman-temannya.
Selanjutnya, ketika teman-temannya datang, terjadi adu mulut antara mereka dan Andy Kusuma. Tak lama kemudian, pria tersebut kembali dengan membawa balok kayu, lalu menghantamkan benda itu ke wajah Kheldy. Akibatnya, pipi kanan Kheldy terluka dan mengeluarkan darah.
Setelah kejadian tersebut, Kheldy langsung melaporkan insiden itu ke Polsek Medan Baru. Laporan teregister dengan nomor LP/II/252/IV/2025 SPKT: Polsek Medan Baru / Polrestabes Medan / Polda Sumatera Utara, dengan sangkaan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.
Menurut keterangan warga yang enggan disebutkan namanya, aksi pemalakan di sekitar Kampus USU memang kerap terjadi. Diduga, pelaku merupakan bagian dari kelompok Wira Cs yang bermukim di Gang Haji Arif, Lingkungan I, Kelurahan Darat, Kecamatan Medan Baru.
"Basis kelompok Wira Cs ini berada di depan Indomaret, dan mereka sering terlihat berkumpul di sekitar Musholla Asholihin yang kini tidak aktif," ujar warga tersebut.
Lebih lanjut, warga menilai wilayah Lingkungan I, Kelurahan Darat, Kecamatan Medan Baru rawan tindak kriminal. Hal ini diperparah oleh absennya Kepling LK I, Seri Rahayu, yang tidak tinggal di wilayah kerjanya serta tidak adanya pos kamling sebagai sarana keamanan lingkungan. (tim/red)